GUNUNG HALIMUN

KEADAAN FISIK KAWASAN

Luas dan letak
halimunKawasan Gununga Halimun sejak zaman pemerintahan Belanda (1924) telah ditetapkan sebagai Hutan Lindung. Kemudian pada tahun 1979 oleh Menteri Pertanian ditetapkan sebagai Cagar Alam Gunung Halimun dengan luas 40.000 Ha, dan pada tahun 1992 ditetapkan sebagai Taman Nasional (TN) oleh Menteri Kehutanan.
Menurut administrasi pemerintahan  TN Gunung Halimun termasuk wilayah Kabupaten Bogor, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Sukabumi.

Topografi
Keadaan topografi kawasan ini sebagian besar curam sampai dengan sangat curam yaitu antara 24-45%. Ketinggian tempatnya bervariasi dari 500 sampai dengan 1929 meter di atas permukaan laut dengan keadaan lapangannya bergunung-gunung. Terdapat beberapa puncak gunung yaitu : Gunung Halimun (1929 m), gunung Sanggabuana (1.919 m), Gunung Botol (1.720 m), gunung Kendeng (1.400 m), dan Gunung Amdan (1.463 m).

Iklim
Berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan TN. Gunung Halimun termasuk dalam tipe iklim A. Curah hujan rata-rata berkisar antara 4.000 – 6.000 mm per tahun. Pada kondisi normal, bulan Oktober sampai April curah Hujan rata-ratanya mencapai 400-600 mm per bulan. Pada bulan Mei hingga Agustus curah hujan rata-rata mencapai 200 mm per bulan. Musim kemarau umumnya terjadi pada bulan Mei sampai dengan bulan September.

POTENSI BIOTIK KAWASAN

Flora
Vegetasi di TN Gunung Halimun mempunyai kesamaan dengan vegetasi di Sumatera Selatan. Tipe ekosistemnya terdiri dari Sub Montana (1000-1500 m) dan Montana (1500-2400 m).

SUB MONTANA merupakan hutan yang mempunyai keragaman jenis yang sangat tinggi dengan dominasi  jenis Rasamala (Altingia excelsa), Puspa (Schima walichii), dan pasang (Quercus sp), dengan berbagai jenis epifit seperti anggrek dan tumbuhan memanjat. Sedangkan di Montana didominasi oleh jamuju (Podocarpus imbricatus), kiputri (Podocarpus neriifolius), dengan sedikit jenis tumbuhan bawah. Di kawasan ini terdapat sekitar 75 jenis anggrek yang diantaranya merupakan jenis langka yaitu Bulbophylum binnendkii, Bulbophylum angustifolium, Coelogyne correa, Cymbidium sundaicum dan Dendrobium raciborsckii.

Fauna
Dalam sejarah kawasan TN Gunung Halimun pernah tercatat sebagai habitat kehidupaan badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), dan Harimau Jawa (Pantera tigris). Dari berbagai jenis satwa yang ada di kawasan ini, terdapat beberapa species dari golongan primata yang sudah tinggal sedikit jumlahnya dan perlu dipertahankan keberadaan yaitu Owa (Hylobates moloch), Surili (Presbitys comata), Kera (Macaca fascicularis), dan Lutung (Tracypithacus auratus). Sedangkan satwa-satwa lainnya adalah macam tutul (Phantera pardus), macam kumbang (Panthera bengalensis), Kijang (Muntiacus muntjak) dan Babi Hutan (Sus scrofa).

Di kawasan TN Gunung Halimun terdapat lebih dari 130 jenis burung dan 90 jenis diantaranya merupakan burung yang menetap dan 12 jenis merupakan jenis endemik di jawa serta dua diantaranya dikhawatirkan punah yaitu burung matahari (Crocias albonotatus) dan burung kuda (Gárrulas rufifrons). Jenis lainnya yang endemik di Jawa Barat yaitu berecet (Psaltria exilis) dan burung-burung lainnya yaitu : rangkong (Buceros rhinoceros), sepah (Anthereptes malacensis), ekek keling (Cissa thalassina), elang ruyuk (Spilornis cheela).

POTENSI WISATA ALAM

Disamping sebagai tempat penelitian dan sistem peyangga kehidupan, kawasan  TN Gunung Halimun juga merupakan tempat rekreasi dan pariwisata alam yang menarik. Kegiatan yang dilakukan selain mengamati kehidupan satwa, menikmati pemandangan dan gejala alam juga memotret, diantaranya beberapa tempat yang menarik untuk dikunjungi yaitu :

Air Terjun : Di dalam kawasan TN Gunung Halimun terdapat delapan buah air terjun yang potensial untuk dikembangkan, antara lain Curug Cimantaja dan Cipamulaan di sekitar Desa Cikuray, Kecamatan Cikidang, Curul Piit dan Cihanjawar di sekitar perkebunan the Nirmala (Blok Hanjawar), Curul Citangkolo dan Ciraksamala di sekitar Mekarjaya dan Curul Ciberang di Desa Cisarua, Kecamatan Cigudeg.

Bumi Perkemahan : di Cikaniki dan Citalahab yang berada di jalan antara Nirmala – Kabandungan, tetapi dalam kawasan Taman Nasional terdapat bumi perkemahan yang akan dikembangkan untuk menjadi bumi perkemahan yang ideal.

Candi Cibedug : di balik keindahan panorama pegunungan TN Gunung Halimun terdapat candi tua kecil berasal dari zaman megalitik. Candi tersebut terletak di sebelah Barat Daya, berjarak 8 km atau dua jam jalan kaki dari Desa Citorek.

Daya tarik lainnnya : Di bagian Timur dekat dengan pintu masuk utama di Cipeuteuy, terdapat beberapa areal pertanian dan di dalam enclave Taman Nasional terdapat perkebunan teh Nirmala. Kedua tempat tersebut mungkin dapat dikembangkan menjadi obyek wisata agro.

AKSESIBILITAS

Untuk mencapai kawasan TN Gunung Halimun dapat dilakukan dari tiga wilayah, yaitu dari Bogor, Lebak dan Sukabumi. Untuk menuju ke desa-desa yang berbatasan dengan kawasan, terdapat jalan-jalan yang kondisinya baik.

Secara terinci perhubungan dari masing-masing wilayah adalah sebagai berikut :

Sukabumi – Parungkuda- Cipeuteuy (50 Km).

Sukabumi – Parungkuda = 20 Km = 30 menit dengan kendaraan umum.

Parungkuda – Cipeuteuy = 30 Km = 1 jam dengan kendaraan umum

Bogor – Leuwipanjang – Nanggung – Cisangku (50 Km)

Bogor – Leuwiliang = 20 Km = 20 menit dengan kendaraan umum

Leuwiliang – Nanggung = 15 Km = 20 menit dengan kendaraan umum.

Nanggung – Cisangku = 15 Km = 1 jam dengan kendaraan ojeg motor

Rangkas bitung – Bayah – Ciparay (186 Km)

Rangkasbitung – Bayah – Ciparay = 150 Km = 3 jam dengan kendaraan umum dan Bayah – Ciparay = 36 Km = 2 jam dengan kendaraan ojeg motor.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: